BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Toxoplasmosis merupakan
penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia.
Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasmosis
gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia
dan hewan peliaharaan. Penderita Toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu
tanda klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit
toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Apabila
penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat
mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.
Penyakit toxoplasmosis biasanya
ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga dapat menyerang
hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya. Walaupun
sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis
ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Untuk tertular penyakit
toxoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing
tetapi juga bisa terjadi pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari
daging setengah matang atau sayuran lalapan yang terkontaminasi dengan agent
penyebab penyakit toxoplasmosis.
Dewasa ini setelah siklus
hidup toxoplasma ditemukan maka usaha pencegahannya diharapkan lebih mudah
dilakukan. Pada saat ini diagnosis toxoplasmosis menjadi lebih mudah ditemukan
karena adanya antibodi IgM atau IgG dalam darah penderita. Diharapkan dengan
cara diagnosis maka pengobatan penyakit ini menjadi lebih mudah dan lebih
sempurna, sehingga pengobatan yang diberikan dapat sembuh sempurna bagi
penderita toxoplasmosis. Dengan jalan tersebut diharapkan insidensi keguguran,
cacat kongenital, dan lahir mati yang disebabkan oleh penyakit ini dapat
dicegah sedini mungkin. Pada akhirnya kejadian kecacatan pada anak dapat
dihindari dan menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan toxoplasmosis?
2.
Bagaimana siklus hidup toxoplasmosis?
3.
Bagaimanakah cara penularan toxoplasmosis?
C.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Tujuan Umum
Sebagai salah satu syarat pemenuhan tugas medical
science prodi D III Kebidanan Magelang.
2.
Tujuan Khusus.
a. Untuk
mengetahui pengertian toxoplasmosis secara jelas.
b. Agar
pembaca dan penulis mengenal siklus hidup toxoplasmaosis.
c. Untuk
menambah pengetahuan pembaca dan penulis dalam penularan toxoplasmosis.
D.
METODE
Yang dimaksud metode adalah suatu cara yang dilakukan penulis
mengumpulkan karya tulis. Penulis dalam penulisan bahan – bahan dalam penulisan
karya tulis itu menggunakan metode :
1.
Studi pustaka.
Yang dimaksud dengan studi
pustaka adalah metode dalam mengumpulkan bahan-bahan dalam penulisan yang
digunakan pembaca literatur sesuai dengan topik.
2.
Studi internet
Yang dimaksud dengan studi
internet adalah metode yang digunakan dalam pengumpulan bahan-bahan makalah
dengan membaca sumber yang sesuai dengan topik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Toxoplasmosis (toxo) adalah infeksi yang disebabkan oleh
parasit bersel tunggal yang disebut Toxoplasma
gondii. Infeksi paling umum didapat dari kontak dengan kucing-kucing dan
feces mereka atau daging mentah atau yang kurang masak.
Penderita Toxoplasmosis
sering tidak memperlihatkan suatu tanda klinis yang jelas sehingga dalam
menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktik
dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil
trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli
atau epilepsi.
Toxopasmosis adalah penyakit zoonosis yang secara alam
dapat menyerang manusia, ternak, hewan peliharaan yang lain seperti hewan liar,
unggas dan lain-lain. Kejadian toxoplasmosis telah dilaporkan dari beberapa
daerah di dunia ini yang geografiknya sangat luas. Survei terhadap kejadian ini
memberi gambaran bahwa toxoplasmosis pada suatu daerah bisa sedemikian hebatnya
hingga setiap hewan mmlperlihatkan gejala toxoplasmosis. Sebagai contoh adalah
survei yang telah diadakan di Amerika Serikat. Data positif didasarkan kepada
penemuan serodiagnostik dari beberapa hewan peliharaan dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini:
|
Tabel 1: Data Positif didasarkan penemuan serodiagnostik
|
|
No
|
Hewan Yang Terinfeksi
|
Presentase
|
|
1
|
Anjing
|
59%
|
|
2
|
Kucing
|
34%
|
|
3
|
Babi
|
30%
|
|
4
|
Sapi
|
47%
|
|
5
|
Kambing
|
48%
|
Pada
manusia penyakit toxoplasmosis ini sering terinfeksi melalui saluran
pencernaan, biasanya melalui perantaraan makanan atau minuman yang
terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya
karena minum susu sapi segar atau makan daging yang belum sempurna matangnya
dari hewan yang terinfeksi dengan penyakit toxoplasmosis. Penyakit ini juga
sering terjadi pada sejenis ras kucing yang berbulu lebat dan warnanya indah
yang biasanya disebut dengan mink, pada kucing ras mink penyakit toxoplasmosis
sering terjadi karena makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging segar
(mentah) dan sisa-sisa daging dari rumah potong hewan.
B.
Etilogi Penyakit Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan
pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit
yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili
babesiidae.
Toxoplasma
gondii adalah parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada
berbagai organ tubuh. Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat atau oval, jarang
ditemukan dalam darah perifer, tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada
organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, pam-pam,
otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya.
Perkembangbiakan
toxoplasma terjadi dengan membelah diri menjadi 2,4 dan seterusnya, belum ada
bukti yang jelas mengenai perkembangbiakan dengan jalan schizogoni. Pada
preparat ulas dan sentuh dapat dilihat dibawah mikroskop, bentuk oval agak
panjang dengan kedua Ujung lancip, hampir menyerupai bentuk merozoit dari
coccidium. Jika ditemukan diantara sel-sel jaringan tubuh berbentuk bulat
dengan ukuran 4 sampai 7 mikron. Inti selnya terletak dibagian ujung yang
berbentuk bulat. Pada preparat segar, sporozoa ini bergerak, tetapi
peneliti-peneliti belum ada yang berhasil memperlihatkan flagellanya.
Toxoplasma baik
dalam sel monocyte, dalam sel-sel sistem reticulo endoteleal, sel alat tubuh
viceral maupun dalam sel-sel syaraf membelah dengan cara membelah diri 2,4 dan
seterusnya. Setelah sel yang ditempatinya penuh lalu pecah parasit-parasit
menyebar melalui peredaran darah dan hinggap di sel-sel baru dan demikian
seterusnya.
Toxoplasma
gondii mudah mati karena suhu panas, kekeringan dan pembekuan. Cepat mati
karena pembekuan darah induk semangnya dan bila induk semangnya mati jasad
inipun ikut mati. Toxoplasma membentuk pseudocyste dalam jaringan tubuh atau
jaringan-jaringan tubuh hewan yang diserangnya secara khronis. Bentuk
pseudocyste ini lebih tahan dan dapat bertindak sebagai penyebar toxoplasmosis.
C.
Siklus Hidup Dan
Morpologi Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii terdapat
dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Trofozoit berbentuk
oval dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki
inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila
infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan
disebut bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista
yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10-100 um. Kista
penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot
jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista
yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan
dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung
siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang
menghasilkan ookista dan clikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang
mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan
ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi,
kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk
kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara
tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista.
Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium
seksual di dalam usus halus kucing tersebut.
D.
Cara Penularan
Toxoplasmosis
Infeksi
dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang
mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa,
tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin
terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi
juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan
hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik
dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii.
Table 2. Frekuensi toxoplasmosis pada penduduk dari berbagai
negara.
|
No.
|
Tempat
|
Frekuensi
|
Peneliti
|
Tahun
|
|
1
|
Taiwan
|
1,97%
|
Dufee
|
1975
|
|
2
|
Hongkong
|
6,20%
|
Ludlam
|
1969
|
|
3
|
Jepang
|
16,5%
|
Suzuki
|
1971
|
|
4
|
Singapura
|
17,2%
|
Singh
|
1968
|
E.
Tanda dan Gejala
Pada individu
imunokompeten yang tidak hamil, infeksi toxoplasma gondii biasanya tanpa
gejala. Sekitar 10-20% pasien mengembangkan limfadenitis atau sindrom, seperti
flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit
tenggorokan, limfadenopati dan ruam. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa
meniru mononukleosis menular. Gejala biasanya dapat hilang tanpa pengobatan
dalam beberapa minggu ke bulan, meskipun beberapa kasus dapat memakan waktu
hingga satu tahun. Gejala berat, termasuk myositis, miokarditis, pneumonitis
dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan refleks parah,
hemiplegia dan koma, tapi jarang. Ensefalitis, dengan gejala sakit kepala,
disorientasi, mengantuk, hemiparesis, perubahan refleks dan kejang, dapat
menyebabkan koma dan kematian. Nekrosis perbanyakan parasit dapat menyebabkan
beberapa abses dalam jaringan saraf dengan gejala lesi. Chorioretinitis,
miokarditis, dan pneumonitis juga terjadi. Penularan Toksoplasmosis tidak
secara langsung ditularkan dari orang ke orang kecuali dalam rahim (Institute
for International Cooperation in Animal Biologics, 2005).
Tanda-tanda
yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):
1)
Toxoplasma pada orang yang imunokompeten
Hanya 10-20% dari infeksi toksoplasma pada orang
imunokompeten dikaitkan dengan tanda-tanda penyakit. Biasanya, pembengkakan
kelenjar getah bening (sering di leher). Gejala lain bisa termasuk demam,
malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam makulopapular dan sakit tenggorokan.
2)
Toxoplasmosis pada orang dengan sistem
kekebalan yang lemah
Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan
yang lemah misalnya, pasien dengan AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi
mungkin melibatkan otak dan sistem syaraf, menyebabkan ensefalitis dengan
gejala termasuk demam, sakit kepala, kejang-kejang dan masalah penglihatan,
ucapan, gerakan atau pemikiran. manifestasi lain dari penyakit ini termasuk
penyakit paru-paru, menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan miokarditis
dapat menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia.
3)
Toxoplasma Okular
Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering
unilateral, dapat dilihat pada remaja dan dewasa muda, sindrom ini sering
merupakan akibat dari infeksi kongenital tanpa gejala atau menunda hasil
infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat atau sebelum kehamilan sehingga
menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala saat lahir, namun sebagian besar akan mengembangkan
pembelajaran dan visual cacat atau bahkan yang parah, infeksi yang mengancam
jiwa di masa depan, jika tidak ditangani.
4)
Toksoplasmosis pada wanita hamil
Kebanyakan wanita yang terinfeksi selama kehamilan
tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya
dapat menularkan infeksi ke janin. Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan
terjadi ketika bayi baru lahir, tergantung pada tahap kehamilan saat infeksi
ibu terjadi. Pada kondisi tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan
menyebabkan abortus spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan
stillbirths juga dapat dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada
trimester pertama. Tanda dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit,
fotofobia, dan kehilangan sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.
5)
Toxoplasmosis congenital
Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester
pertama atau kedua yang paling mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah
lahir. Tanda-tandanya yaitu demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit
kuning (menguningnya kulit dan mata), sebuah kepala yang sangat besar atau
bahkan sangat kecil, ruam, memar, pendarahan, anemia, dan pembesaran hati atau
limpa. Mereka yang terinfeksi selama trimester terakhir biasanya tidak
menunjukkan tanda-tanda infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin menunjukkan
tanda-tanda toksoplasmosis okular atau penundaan perkembangan di kemudian hari.
F.
Perubahan Makroskopis
Pada Penyakit Toxoplasmosis
Sarang-sarang nekrosa dapat
ditemukan didalam paru-paru, hati, limpa, anak ginjal dan sel-sel disekitar
sarang-sarang ini mengandung toxoplasmosis yang tergabung dalam koloni-koloni
terminal (Pseudo-cysts) atau parasit-parasit itu terletak bebas dalam jaringan-jaringan.
Toxoplasma banyak dijumpai didalam sel-sel pada pinggir ulkus-ulkus usus.
Didalam otak parasit-parasit
terlihat didalam sel-sel glia atau neuron sebagai paraasit-parasit intra
selluler atau sebagai koloni-koloni terminal (pseudo cysts).. Protozoa itu juga
berada bebas dalam jaringan. Reaksi radang umumnya jelas terlihat, sebagai
gliosis, mikroglia, atan astrosit-astrosit. Penyerbukan limfosit-limfosit dalam
ruang virchow robin, disamping nekrosa lokal jaringan otak. Juga terjadi
proliferasi sel-sel adventisia, disamping nekrosa lokal jaringan otak.
Perubahan-perubahan itu paling banyak terdapat dalam cortex cerebralis. Parasit
itu juga bisa dijumpai pada selaput otak.
Hati memperlihatkan
perdarahan-perdarahan lokal yaitu gambaran degenerasi dan reaksi seluler
disamping sarang-sarang nekrosa tersebut di atas. Parasit-parasit dapat
ditemukan didalam makrofag atau didalam sel-sel hati. Didalam limpa
kadang-kadang dijumpai sel-sel reticulum dan makrofag-makrofag. Parasit-parasit
terlihat didalam miokard yakni didalam makrofag-makrofag atau didalam
miofibril. Disamping itu serabut-serabut otot degenerasi.
Toxoplasmosis
sekali-sekali ditemukan di dalam mata anjing. Disamping itu juga memperlihatkan
gejala renitis, newritis. Pada unggas toxoplasmosis otak merupakan
perubahan-perubahan yang sering terlihat.
G.
Diagnosis Toxoplasmosis
Meskipun insiden
infeksi toksoplasmosis tinggi, diagnosis klinis jarang dilakukan karena tanda
klinis dari toxoplasmosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya. Uji laboratorium
biasanya digunakan untuk diagnosis. Hanya mendeteksi antibodi yang spesifik
saja tidak cukup karena banyak manusia dan binatang memiliki titer antibodi.
Sebuah infeksi baru dapat menjadi pembeda dengan deteksi peningkatan jumlah
antibodi (seroconversion) dari isotypes yang berbeda (IgG, IgM, IgA) atau dari
sirkulasi. Deteksi parasit yang bebas (takizoit) pada kombinasi dengan gejala
klinis dapat mengkonfirmasikan suatu infeksi, sebagai contoh pada biopsi atau
abortion material. Deteksi kista jaringan (hanya seperti antibodi saja) tidak
mengkonfirmasi infeksi aktif.
Identifikasi Toxoplasma gondii
dalam darah atau cairan tubuh (Medows, 2005)
1.
Isolasi T. gondii dalam darah atau
cairan tubuh (misalnya, CSF, cairan ketuban) dengan inokulasi kultur jaringan.
2.
Fluorescent antibodi atau tachyzooites
pewarnaan immunoperoxidase.
3.
Reaksi berantai polimerase (PCR) untuk
deteksi T. gondii DNA.
4.
Serologi
a) ELISA
untuk mendeteksi IgG, IgM, IgA atau antibodi IgE
b) IFA
deteksi IgG atau IgM.
IgM spesifik tes yang dilakukan bila diperlukan
untuk menentukan waktu infeksi, misalnya dalam sebuah pregnansi. Sebuah tes
negatif yang kuat IgM menunjukkan bahwa infeksi ini tidak baru, tetapi tes IgM
positif sulit untuk menginterpretasikan. IgM spesifik toksoplasma dapat
ditemukan hingga 18 bulan setelah infeksi akut dan positif palsu yang umum.
c) Uji
aviditas imunoglobulin G.
d) Immunosorbant
aglutinasi untuk IgM atau IgA.
e) Uji
Sabin-Feldman dye, hemaglutinasi tidak langsung, aglutinasi lateks, aglutinasi dimodifikasi
dan fiksasi komplemen.
5.
Pencitraan Radiologi
a) Computed
Tomography (CT) atau radiologi dapat menunjukkan toksoplasmosis otak, USG dapat
digunakan pada janin dan kalsifikasi atau ventrikel membesar dalam otak bayi
baru lahir.
b) CT
atau MRI dapat menunjukkan beberapa kontras, bilateral meningkat
("cincin-lesi") dalam otak.
H.
Diagnosis Toxoplasmosis
Kongenital Pada Bayi.
Di Indonesia sering dijumpai
bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongnital. Penyebab kelainan kongenital
karena infeksi termasuk golongan toxoplasma janin mulai membentuk zat anti pada
akhir trimester pertama, yang terdiri dari IgM zat anti ini biasanya menghilang
setelah 1-3 bulan. Zat anti IgM pada bayi didapat dari ibunya melalui plasenta
Konsentrasi IgG pada neonatus berkurang, dan akan naik lagi bila bayi dapat
mebuat IgG sendiri pada umur lebih kurang 3 bulan. Serodiagnosis infeksi
kongenital berdasarkan kenaikan jumlah zat anti IgG spesifik mau deteksi zat
anti IgM spesifik. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengingat kembali
kepentingan pemeriksaan zat anti IgG pada paired sera untuk diagnosis
toxoplasmosis kongenital bila zat anti IgG tidak ditemukan.
Pada bulan Januari 1986
Sampai Juni 1988 staf bagian parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia yaitu Srisasi Ganda Husada telah melakukan penelitian tentang
toxoplasmosis yaitu telah memeriksa 99 bayi berumur 1 hari sampai 6 bulan yang
tersangka menderita toxoplasmosis kongenital. Bayi-bayi ini dikirim oleh RS.
Dr. Cipto Mangunkusumo, rumah sakit lain yang ada di Jakarta dan dari
dokter-dokter praktek pribadi. Kelainan klinik pada bayi-bayi yang tersangka
toxoplasmosis kongenital ini adalah merupakan trias klasik yaitu Hidrocephalus,
korioretinitis, dan perkapuran otak. Ada bayi yang hanya menunjukkan suatu
kelainan seperti hepatosplenomegali katarak, mikrosefalus, kejang, dan
ada yang menunjukkan lebih dari satu kelainan di atas.
Dari tiap bayi diambil darah
vena atan darah tali pusat serum dipisahkan dari gumpalan darah dan disimpan
dalam frezer pada suhu 20C sampai diperiksa 2m anti IgM ditentukan
dengan Elisa dengan menggunakan test kit Eti-Toxox-M reverse dari sorin
Biomedica. Dalam test kit ini tersedia lempeng-lempeng plastik dengan
sumur-sumur ini diisi dengan serum kontrol dan serum pendertia, kemudian
diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C. Bila dalam serum tersebut
terdapat IgM spesifik, maka IgM ini akan diikat dan menempel pada dasar sumur.
Cairan dalam sumur-sumur
dibuang dan lempeng-lempeng dicuci. Kemudian sumur-sumur diisi dengan
toxoplasmosis entigen yang dibuat dari toxoplasma gondii RH Strain antigen ini
dicanlpur dengan Enzyme tracer yang mengandung IgG terhadap toxoplasma gondii
(dari tikus) yang dikonjugasi pada horse radish peroxydase. Setelah diinkubasi
kembali selama 1 jam pada 370C, maka toxoplasma gondii akan terikat pada
IgM spesifik dan enzim tracer yang menempel pada IgG terhadap toxoplasma
gondii. Dengan demikian antivitas enzim ini proposional dengan konsentrasi IgM
spesifik dalam serum penderita atau kontrol. Aktivitas enzim diukur dengan
menambahkan Tetra Methilbenzidene chromogen/substrat yang tidak warna.
Lempeng-lempeng diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Enzym dicampur
dengan chromogen substrat menimbulkan warna kuning yang diukur dengan
spektrofotometer dengan filter 45Omm setelah reaksi dihentikan dengan laluran H2SO4In.
Yang dianggap positif adalah nilai besar dari pada Cut off Control.
Zat anti IgG pada bayi yang
datang sebelum Juni 1987 di tentukan dengan mikroteknik tes hemagtutinasi tidak
langsung (IHA) menurut Milgram dengan menggunakan antigen dari laboratorium
NAMRU 2 yang dibuat dari RH strain toxoplasma gondii sebelum diperiksa serum
diinativasi pada suhu 56°C selama setengah jam,. Titer dimana masih tampak
aglutinasi. Mulai Juni 1987 telah tersedia Toxo Elisa Test Kit dari MA Bio
product dan untuk penentuan zat anti IgG lalu digunakan Test Kit tersebut.
Dalam Test Kit tersebut digunakan lempeng-lempeng plastik dengan sumur-sumur
yang telah dilapisi dengan antigen toxoplasma gondii.
Sumur-sumur ini diisi dengan
senun kontrol dan serum penderita. Kemudian diinkubasi 45 menit pada suhu
kamar. Bila serum yang diperiksa mengandung zat anti IgG spesifik maka zat anti
ini terikat pada antigen. Setelah dicuci sumur-sumur diisi dengan antihuman IgG
yang dikonjugasi pada enzim alkalin fosfatase. Lempeng-lempeng diinkubasi
selama 45 menit pada subu kamar. Konjugat ini akan terikat pada IgG spesifik
(bila) ada pada dasar sumur diisi dengan substat P-nitro fenifostat. Setelah
diinkubasi kembali selama 45 menit subtract akan dihirrolisa oleh enzim yang
menimbulkan warna kuning. Setelah reaksi dihentikan dengan larutan Na OH I N
perubahan warna dibaca dengan spektrofotometer dengan filter 405 mm. Intentitas
perubahan warna sejajar dengan jumlah IgG spesifik. Yang dianggap positif
adalah nilai yang sama dengan atau lebih besar dapat pada 0,21.
Hasil penelitiannya yaitu
dari 99 terdapat 79 bayi yang tersangka toxoplasmosis kongenital. Dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:
Tabel
3. Hasil Pemeriksaan IgM pada 79 Bayi Tersangka Toxoplasmosis Kongenital.
|
Hasil Yang Didapat
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
Positif
|
8
|
10,1
|
|
Negatif
|
71
|
89,9
|
Jumlah |
79
|
100
|
Pada Tabel 3 di atas dapat
dilihat, bahwa IgM spesifik ditemukan pada 8 bayi (10,1) yaitu 4 bayi berumur 2
hari sampai 5 bulan yang secara berturut-turut menunjukkan kelainan kongenital
multipel dan hepatospenomegali, anemia gravis dan demam, mikro sephalus,
khorioretinitis dan katarak. Pemeriksaan IgG dengan Elisa menunjukkan nilai
positif tinggi pada keempat bayi tersebut yaitu 0,73-0,82-1,22-0,97.
Pemeriksaan IgG pada 4 bayi lainnya dilakukan dengan test IHA dengan hasil
titer 1:1024 (t.) pada bayi berumur 6 bulan dengan kelainan kongenital
multipel, titer 1:64 pada bayi berumur 6 bulan.
Tabel 4. Hasil Pemeriksaan
IsM dan IgG Pada 8 bayi dengan Diagnosis Serologik Toxoplasmosis Kongenital.
|
Umur
|
IgM +
|
IgG
|
Gejala |
|
2 hari
|
0,62
|
0,73
|
Kelainan kongenital multipel + hepatosple nomegali
|
|
2 bulan
|
0,36
|
0,82
|
H. Spenomegali + anemia
|
|
3 bulan
|
0,67
|
1,22
|
Mikrosefalus
|
|
5 bulan
|
0,28
|
0,97
|
Khorioretinitis + Katarak
|
|
6 bulan
|
0,28
|
-
|
Kelainan kongenital
|
|
4,5 bulan
|
0,28
|
64
|
Atropi orak kiri
|
|
5,6 bulan
|
0,36
|
32
|
Kelainan mata
|
|
6 hari
|
0,33
|
8
|
Hiperbilirubinemia
|
Dari tabel di atas dapat dilihat diagnosis toxoplasmosis
kongenital pada 8 bayi dengan det.eksi IgM + dan IgG di dapat basil yang
berbeda antara pemeriksaan dengan IgM dan IgG. Menurut Remington dkk, (1980)
IgM menghilang 3-4 bulan setelah muncul dalam serum, tetapi kadang-kadang dapat
ditemukan lebih lama. Desmonts dkk, 1975 seperti dikutip Vejtorp (1980) menemukan zat antigen IgM hanya pada 25% bayi dengan toxoplasmosis
kongenital.
Penanganan
Indikasi
infeksi pada janin bisa diketahui dari pemeriksaan USG, yaitu terdapat cairan
berlebihan pada perut (asites), perkapuran pada otak atau pelebaran saluran
cairan otak (ventrikel). Sebaliknya bisa saja sampai lahir tidak menampakkan
gejala apapun, namun kemudian terjadi retinitis (radang retina mata),
penambahan cairan otak (hidrosefalus), atau perkapuran pada otak dan hati.
Pemeriksaan awal bisa dilakukan dengan
pengambilan jaringan (biopsi) dan pemeriksaan serum (serologis). Umumnya cara
kedua yang sering dilakukan. Pada pemeriksaan serologi akan dilakukan
pemeriksaan untuk mengetahui adanya reaksi imun dalam darah, dengan cara
mendeteksi adanya IgG (imunoglobulin G), IgM, IgA, IgE. Pemeriksaan IgM untuk
ini mengetahui infeksi baru. Setelah IgM meningkat, maka seseorang akan
memberikan reaksi imun berupa peningkatan IgG yang kemudian menetap. IgA
merupakan reaksi yang lebih spesifik untuk mengetahui adanya serangan infeksi
baru, terlebih setelah kini diketahui lgM dapat menetap bertahun-tahun,
meskipun hanya sebagian kecil kasus.
Sebenarnya sebagian besar orang telah
terinfeksi parasit toksoplasma ini. Namun sebagian besar diantaranya telah
membentuk kekebalan tubuh sehingga tidak berkembang, dan parasit terbungkus
dalam kista yang terbentuk dari kerak perkapuran (kalsifikasi). Sehingga wanita
hamil yang telah memiliki lgM negatif dan lgG positif berarti telah memiliki
kekebalan dan tidak perlu khawatir terinfeksi. Sebaliknya yang memiliki lgM dan
lgG negatif harus melakukan pemeriksaan secara kontinyu setiap 3 bulan untuk
mengetahui secara dini bila terjadi infeksi.
Bagaimana bila lgM dan lgG positif ?
Untuk ini disarankan melakukan pemeriksaan ulang. Bila ada peningkatan lgG yang
signifikan, diduga timbul infeksi baru. Meski ini jarang terjadi, tetapi
adakalanya terjadi. Untuk lebih memastikan akan dilakukan juga pemeriksaan lgA.
Pemeriksaan bisa juga dilakukan dengan PCR, yaitu pemeriksaan laboratorium dari
sejumlah kecil protein parasit ini yang diambil dari cairan ketuban atau darah
janin yang kemudian digandakan.
Bila indikasi infeksi sudah pasti, yaitu
lgM dan lgA positif, harus segera dilakukan penanganan sedini mungkin.
Pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian sulfa dan pirimethamin atau
spiramycin dan clindamycin. Sulfa dan pirimethamin
dapat menembus plasenta dengan baik sehingga dianjurkan untuk pengobatan
pertama. Terapi harus dilakukan terus sampai persalinan. Bahkan setelah
persalinan akan dilakukan pemeriksaan pada bayi. Bila didapat lgM positif maka
bisa dipakstikan bayi telah terinfeksi. Meski hasilnya negatif sekalipun, tetap
harus dilakukan pemeriksaan berkala sesudahnya. Dengan pemeriksaan dan
pengobatan secara dini penularan pada bayi akan bisa ditekan seminimal mungkin.
Selain itu pengobatan dini yang tepat saat awal kehamilan akan menurunkan
secara signifikan kemungkinan janin terinfeksi.
I.
Pencegahan Toxoplasmosis
Terdapat
beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit toksoplasmosis,
antara lain (Chin, 2000):
1.
Mendidik ibu hamil tentang
langkah-langkah pencegahan:
a. Gunakan
iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan. Pembekuan
daging tidak efektif untuk menghilangkan Toxoplasma gondii.
b. Ibu
hamil sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak dengan kucing.
Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tangan setelah kerja dan
sebelum makan.
2.
Makanan kucing sebaiknya kering,
kalengan atau rebus dan mencegah kucing tersebut berburu (menjaga mereka
sebagai hewan peliharaan dalam ruangan)
3.
Menghilangkan feses kucing (sebelum sporocyst
menjadi infektif). Feses kucing dapat dibakar atau dikubur. Mencuci tangan
dengan bersih setelah memegang material yang berpotensial terdapat Toxoplasma
gondii.
4.
Cuci tangan sebelum makan dan setelah
menangani daging mentah atau setelah kontak dengan tanah yang mungkin
terkontaminasi kotoran kucing.
5.
Control kucing liar dan mencegah mereka
kontak dengan pasir yang digunakan anak-anak untuk bermain.
6.
Penderita AIDS yang telah toxoplasmosis
dengan gejala yang parah harus menerima pengobatan profilaksis sepanjang hidup
dengan pirimetamin, sulfadiazine dan asam folinic.
J.
Pengobatan Toxoplasmosis
Sampai saat ini pengobatan
yang terbaik adalah kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine.
Kombinasi ke dua obat ini secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam
benzoat dan siklus asam foist. Dosis yang dianjurkan untuk pyrimethamine ialah
25-50 mg per hari selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis
2.000-6.000 mg sehari selama sebulan.
Karena efek samping obat
tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka dianjurkan untuk menambahkan
asam folat dan yeast selama pengobatan. Trimetoprimn juga temyata efektif untuk
pengobatan toxoplasmosis tetapi bila dibandingkan dengan kombinasi antara
pyrimethamine dan trisulfapyrimidine, ternyata trimetoprim masih kalah
efektifitasnya.
Spiramycin
merupakan obat pilihan lain walaupun kurang efektif tetapi efek sampingnya
kurang bila dibandingkan dengan obat-obat sebelumnya. Dosis spiramycin yang
dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4 kali pemberian.
Beberapa peneliti menganjurkan pengobatan wanita hamil trimester pertama dengan
spiramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau 3 minggu kemudian disusul 2
minggu tanpa obat. Demikian berselang seling sampai sembuh. Pengobatan juga
ditujukan pada penderita dengan gejala klinis jelas dan terhadap bayi yang
lahir dari ibu penderita toxoplasmosis.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit toxoplasmosis
merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di berbagai negara juga
di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari
pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi
masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis
secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan
IgM terhadap toxoplasmagondii akan dapat diketahui status penyakit penderita.
Toxoplasmosis
ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan
pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit
yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili
babesiidae.
Tanda-tanda yang
terkait dengan toksoplasmosis tanpa gejala. Pasien mengembangkan limfadenitis
atau sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan ruam. myositis, miokarditis,
pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan
refleks parah, hemiplegi, koma, dan ensefalitis.
Diagnosis dapat
dilakukan dengan cara Isolasi, pewarnaan immunoperoxidase, PCR, serologi, dan
pencitraan radiologi.
Pencegahan dapat dilakukan dengan
pendidikn pada ibu hamil, memperhatikan makanan kucing, menghilangkan feses
kucing, PHBS, kontrol kucing liar, dan pengobatan profilaksis pada penderita
AIDS.
B.
Saran
1.
Dianjurkan untuk
memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama akan
kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.
2.
Bagi wanita yang mengindap
toxoplasmosis sebaiknya tidak hamil dahulu sampai sembuh atau virus dalam
keadaan istirahat.
3.
Ibu hamil sebaiknya
menghindari kontak langsung deng kucing.
4.
Gunakanlah iradiasi daging atau memasak
daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan.
DAFTAR PUSTAKA
http://keluargacemara.com/kesehatan/kehamilan/infeksi-kehamilan-karena-toxoplasma.html#ixzz1pe3XIgdB
LAMPIRAN
Siklus hidup
Toxoplasmosis gondii